Dengan
adanya kurikulum 2013 tidak menjadikan visi, misi dan tujuan SD Hidayatullah
berubah. Konsep dari kurikulum 2013 adalah konsep yang selaras dengan yang
diterapkan di SD Hidayatullah (Hidayatullah banget). Akan tetapi konsep
kurikulum 2013 tidak seutuhnya diterapkan karena SD Hidayatullah sangat
mengutamakan pendidikan Akhlak dari pada akademik, tujuannya tidak lain adalah
untuk “pembentukan karakter insan khaira ummah”. Sedangkan pendidikan akademik
hanya sebagai media untuk mengantar anak berbudi pekerti luhur. Walaupun
demikian, prestasi akademik siswa SD Hidayatullah tetap bagus.
SD
Hidayatullah sebenarnya adalah Madrasah Ibtidaiyah/MI (Alasan penggunaan nama
SD hanya untuk menarik minat wali murid agar menyekolahkan anaknya di SD
Hidayatullah, karena penggunaan nama MI sekarang kurang diminati alasannya
tidak “in/jaman”-nya).Oleh karena itu, SD Hidayatullah tidak hanya menggunakan
kurikulum 2013 akan tetapi juga menggunakan kurikulum seperti yang diterapkan
di TPQ yang berasal dari Departemen Agama (DEPAG). Permasalahan yang dihadapi
sekolah dari kurikulum DEPAG terkait dengan diterapkannya kurikulum 2013
sebagai kurikulum baru yaitu hanya kelas 1 dan IV yang baru terealisasikan, sedangkan untuk
kelas yang lain belum ada pengarahan dan panduan dari DEPAG.
Seperti
di SD lainnya, SD Islam Hidayatullah menggunakan model tematik. Yang sedikit
berbeda adalah dengan konsep yang dibuat sendiri yaitu seluruh Kompetensi Dasar
dalam materi diikat dengan karakter. Dan sekarang pendidikan agama terpisah
dari pelajaran yang lain (tidak diintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain).
Untuk yang lainnya mengikuti panduan dalam buku. Dalam pelaksanaanya terutama
proses pembelajaran sudah lancar, hanya
saja pada tahap penilaian para guru dihadapkan dengan banyaknya kendala dan
kebingungan.
Terdapat
3 poin utama yang membedakan Kurikulum 2013 dengan KTSP. Pertama, pada
kurikulum 2013 pembelajaran tidak lagi dipecah dalam mata pelajaran seperti
pada KTSP. Kurikulum 2013 menggunakan tema pada pembelajarannya dimana tema
tersebut didalamnya telah terintegrasi dengan mata pelajaran yang akan
diajarkan.
Kedua,
penilaian dalam kurikulum 2013 tidak lagi hanya sebatas akademik. Dalam
kurikulum 2013, sikap dan skill juga menjadi pertimbangan guru dalam memberikan
nilai pada anak. Ketiga, sistem penilaian raport tidak lagi dengan menggunakan
angka-angka yang telah diakumulasikan selama satu semester. Sebagai gantinya
kurikulum 2013 menggunakan sistem penilaian raport yang diskriptif dimana guru
menulis hasil pencapain peserta didik dalam bentuk kalimat.
Kendala
yang dialami guru SD Hidayatullah dalam pengembangan kurikulum 2013 mengenai
Paradigma dalam kurikulum 2013 yang sudah dikuasai oleh guru SD Hidayatullah.
Namun, konsepnya belum dikuasai seperti dalam implementasinya pada penilaian
yang sangat memusingkan. Selain itu yang menjadi kendala para guru adalah
tentang bagaimana model ulangan akhirnya. Apakah permata pelajaran ataukah
pertema. Jika ulangan akhirnya menggunakan model pertema tentunya memberatkan
siswa karena banyaknya materi yang harus dipelajari dan tentunya siswa sulit
menentukan apa saja yang harus dipelajari. Apabila model ulangan akhirnya
adalah per tema, maka strategi yang disiapkan para guru untuk memudahkan para
siswa dalam belajar adalah dengan memberikan kisi-kisi pada orang tua
masing-masing siswa. Untuk penilain Ulangan Harian (UH) diambil dari
pembelajaran sehari-hari dan tidak lagi menggunakan sistem pilihan ganda.
Selain itu dalam setiap kelas di SD Hidayatullah terdapat 2 guru pengampu, hal
ini tidak sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah yaitu dalam 1 kelas hanya
boleh diampu oleh 1 guru. Oleh karena itu harus ada 1 guru yang dikorbankan
dalam 1 kelas. Hal ini kemudian menjadi masalah baru bagi SD Hidayatullah.
Metode
pembelajarn kurikulum 2013 mampu menjawab permasalahan dalam proses
pembelajaran dimana menggunakan Pendekatan scientific yang terdapat dalam
kurikulum 2013 jelas membantu kesulitan guru-guru di SD Hidayatullah. Namun,
guru yang memiliki jam terbang tinggi atau dengan kata lain sudah terbiasa
dengan kurikulum sebelumnya merasa kesulitan untuk mengubah kebiasaan lama dan
menerapkan kurikulum baru dalam hal ini kurikulum 2013.
Kegagalam
kurikulum lama bisa jadi karena metodologinya (guru tidak disiapkan secara
matang) dan tidak ada yang bertanggung jawab terhadap kualitas kompetensi guru.
Dan lagi pada kurikulum sebelumnya terdapat pelajaran TIK, namun tidak ada guru
khusus TIK di SD Hidayatullah. Awalnya sekolah menggunakan tenaga administrasi
untuk mengajar. Hal ini memaksa para guru untuk menguasai TIK. Pada saat itu
banyak yang merasa keberatan karena guru-guru menganggap sulit. Akan tetapi,
sekarang para guru sudah menguasainya dan hal ini sangat mendukung dan memberi
hasil positif dalam pembelajaran. Dengan dihapuskannya TIK dalam mata pelajaran
tidak menjadikan beban yang berat bagi SD Islam Hidayatullah, karena untuk
tenaga pengajarnya sudah dibekali TIK saat kurikulum sebelumnya. Selain
mengenai TIK, Dalam kurikulum 2013 tidak ada lagi UN. Bahkan pada kurikulum
sebelumnya sebenarnya sudah tidak ada UN, akan tetapi digantikan dengan US,
hanya saja formatnya masih UN. UTS dan UAS memiliki bobot nilai yang sama,
walaupun semestinya sudah tidak ada. Laporan Hasil Studi/Raport dalam kurikulum
2013 menggunakan model diskriptif (perkompetensi inti, tidak berupa angka). SD
Hidayatullah tidak patuh seutuhnya pada peraturan dalam kurikulum 2013,
contohnya masih memunculkan mata pelajaran, walaupun tidak semuanya. SD
Hidayatullah hanya mengisi raport sebagai formalitas, karena memiliki cara
penilaian tersendiri.
Di
SD Islam Hidayatullah sendiri Bekerja sama dengan tim penilai dari Singapore.
Setiap hari ada 11 guru yang terjadwal untuk patroli keliling lingkungan
sekolah kemudian difoto. Setiap pekan pimpinan mengirim form ke pihak tim
penilai Singapore. Untuk memicu kompetensi guru dalam meningkatkan kinerjanya,
maka akan ditentukan siapa saja yang berada pada 3 terbawah. Guru yang memiliki
kinerja bagus mendapat reward berupa bonus tunjangan, hal tersebut untuk
meningkatkan kompetensi kinerja guru.
Untuk
gedung dan teknologi di SD Hidayatullah sudah terpenuhi. Kekurangannya justru
pada sumber belajar alam yang disebabkan karena sudah tidak adanya lahan.
Sebenarnya pihak SD Hidayatullah sudah mengusulkan lahan yang rencananya untuk
laboratorium makhluk hidup, akan tetapi tidak terealisasi.
Menurut
Waka Kurikulum Teguh “Kurikulum 2013 terlalu bersemangat sehingga premature.
Karena pada kurikulum-kurikulum sebelumnya masa uji cobanya selama 3 tahun.
Sehingga kurikulum 2013 terkesan buru-buru karena masa uji cobanya hanya 1
tahun. Misalnya saja di Semarang uji coba hanya dilakukan pada 16 sekolah sela
1 tahun. Sehingga menurut saya (pengembang kurikulum SD Hidayatullah)
sosialisasinya sangat mengecewakan. Instruktur dari kurikulum 2013 instan.
Master Teacher yang dijanjikan mentri pendidikan hanya sebuah janji, pada
kenyataannya yang ditampilkan dalam diklat masih menggunakan sistem TOT. Dalam
pelaksanaan diklat selama 7 hari, guru-guru belum memiliki bekal ataupun
bayangan tentang landasan filosofi, paradigma dan seperti apa kurikulum 2013.
Bagaimana mereka bisa mendiklat guru-guru lain dalam waktu 5 hari setelah
proses diklatnya sendiri selesai? Kendalanya yaitu pada kekacauan pemahaman
peserta terhadap konsep dalam diklat tersebut karena tidak menggali dari
akarnya. Dari awal, sosialisasinya sudah kacau. Dalam mengatasi kekacauan
tersebut, SD Hidayatullah mempunyai cara tersendiri yaitu dengan mengadakan
workshop untuk guru-guru yang tidak berkesempatan mengikuti diklat dengan
pembicaranya yaitu beberapa guru yang mengikuti diklat. Workshop dilaksanakan
selama 6 hari. 3 hari pertama dengan agenda memahami konsep dan 3 hari
berikutnya dengan agenda penerapan konsep salah satu contohnya adalah membuat
RPP”. Bagitulah pendapat baliau mengenai Kurikulum 2013 di SD Islam
Hidayatullah.
